Berpuluh tahun jadi Misionaris ahirnya Bangura Masuk Islam




Siera Leon (voa-islam.com) Akal yang diberikan oleh Tuhan, akhirnya menuntun kepada kebenaran hakiki. Selama berpuluh tahun hidup dalam agama kebatilan Kristen. Hidupanya jauh tersesat. Menyebarkan agama kemusyrikan (Nasrani). Namun, kemudian ia menyadari bahwa yang dia lakukan semua hanyalah kesesatan belaka.   
Benua Afrika yang sangat luas menjadi lahan yang sangat subur bagi penjajah Eropa, menyebarkan agama sesat (Nasrani). Afrika yang dulu rakyatnya beragama Islam, sesudah penjajah Eropa masuk ke benua hitam itu, kemudian melakukan pemurtadan penduduknya, dan memaksa dengan berbagai bentuk cara memurtadkan rakyat Afrika.
Penjajah Eropa bukan saja memurtadkan rakyat Afrika,  dan bahkan menciptakan sistem yang sangat keji, seperti Apartheid (pemisahan) berdasarkan ras, agama, dan asal-usul. Karena itu, kulit putih (penjajah), sebagai bangsa yang mulia, yang wajib diikuti oleh bangsa Afrika yang hitam.
Eropa bukan hanya menjadi rakyat Afrika penganut agama musyrik (Nasrani), tetapi penjajah Eropa, seperti Perancis, Itali, Inggris, Belanda, Spanyol, dan Jerman, mereka juga merampok dan mengambil seluruh harta kekayaan alam Afrika dibawa ke daratan Eropa.
Eropa menjadi kaya-raya dan makmur, akibat dari penjajah terhadap Afrika. Rakyat Afrika bukan hanya dijajah secara ekonomi dan politik, tetapi juga menjajah secara agama. Agama yang sangat bathil (Nasrani) dijajakan kepada rakyat Afrika, dan dipaksa menerima agama yang bertentangan keyakinan mereka, yaitu Islam.

Salah satu tokoh yang menyebarkan dan memurtadkan rakyat Afrika yaitu, Musa Bangura. Musa  seorang misionaris Kristen berusia 45 tahun dari Sierra Leone, yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Afrika mengajak Muslim di benua Afrika untuk murtad menjadi pengikut Kristen.

Tetapi, dia menyadari bahwa agama yang diajarkan kepada  orang-orang Afrika tentang agama Kristen dan Yesus Kristus itu bathil, selanjutnya Musa meninggalkannya, dan memilih agama Islam sebagai sebuah kebenaran.
Musa, istri dan keluarganya memutuskan  menjadi seorang Muslim. Musa Bangura sekarang menyerukan rakyat Afrika kembali kepada agama Islam, dan meninggalkan agama bathil (kristen), ujarnya  kepada kantor berita Anadolu, Senin, 9/9/2013.

"Selama berpuluh tahun, saya mencoba mengajak umat Islam di berbagai negara Afrika menerima agama kristen, maka saya bermimpi di mana saya melihat sebuah cahaya yaitu Islam," katanya, dan menambahkan bermimpi yang sama tiga kali.

Musa menghadapi hambatan dirinya, sesudah masuk, di mana  semua harta miliknya disita gereja setelah masuk Islam. Ia menekankan bahwa Islam benar-benar sangat penting bagi hidupnya.

Dia menyatakan bahwa hal pertama yang ia lakukan setelah memeluk  Islam adalah membuat penelitian lebih lanjut tentang Islam dan berkata, "Aku mengungkapkan kontradiksi dalam agama Kristen yang mengakibatkan diskusi saya dengan pendeta Kristen. Saya membuktikan mereka bahwa Islam adalah agama yang benar."

Bangura mengatakan ia mendirikan sebuah situs web bernama 'Mengapa Islam'. Di mana ia mengatakan kepada orang-orang Afrika mengapa Islam adalah agama yang nyata dan mengungkapkan kontradiksi dalam kekristenan.

Sampai saat ini, lebih dari 8.000 orang telah memeluk Islam berkat website, yang dia dirikan itu,  kata Musa. "Saya sekarang bekerja untuk mengajak orang Kristen di daerah saya, dan mencoba membantu mereka mewujudkan kebenaran dan memilih Islam", tegasnya. af/hh

Mantan Misionaris : Kalau Yesus Tuhan Mengapa Nabi ADAM tidak menyembah YESUS



Perkenalkan, saya Dra. Dewi Purnamawati, lahir di Solo tahun 1962. Tahun 1971 saya ikut ayah yang anggota AURI pindah tugas ke Pulau Lombok.

Sekolah di Lombok NTB, di SD Katolik St. Antonius Ampenan, SMP Katolik Kesuma Cakranegara dan di STM Negeri Mataram, lulus tahun 1981. Kuliah di IKIP Yogya lulus Tahun 1985. Tahun 1986 saya kembali ke Solo dan mengajar listrik disalah satu STM.

Pengaruh kekristenan Ibu yang seorang aktifis Gereja yang sangat kuat. Tahun 1971 Ayah yang Islam, di kristenkan oleh ibu bahkan berhasil dibina menjadi aktifis penginjilan (misi menyebarkan ajaran Kristen) yang militan dan handal.

Ayah punya talenta mampu berinteraksi dan mengusir roh kegelapan. Padahal kemampuan metafisik / paranormal yang umumnya dianggap anugrah Tuhan itu, sebenarnya dari Setan.
Saya dan 2 adik saya di didik dengan taat dalam kehidupan Kristen yang fanatik. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin Kristen. Memiliki sikap merendahkan dan apriori terhadap Islam. Harus mampu mencitrakan bahwa Kristen adalah KASIH.
Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat Pulau Lombok yang mayoritas beragama Islam. Kami semua aktifis gereja, aktif memurtadkan muslimin.

Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki. Sejak kira-kira Tahun 1997 ia menjadi Pendeta di daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung. Penduduk desa diajari mengelola tanaman hidrophonik sampai memasarkannya.

Melalui rehabilitasi kecanduan narkoba, remaja-remaja muslim diterapi kecanduannya. Lewat Biro Konsultasi, orang-orang bermasalah dicarikan solusi. Tetapi semua tadi hanya kedok dan sarana untuk memurtadkan muslim, menerima Yesus sebagai tuhan.
Adik saya perempuan, aktifis penginjilan di Madura. Kadang kalau malam minggu dia mengamati kiai yang menyeberang ke Surabaya. Ada yang pakaian kiainya ditanggalkan, ganti pakai celana jeans dan T. Shirt. Lalu asyik dalam dunia hiburan. Ini celah memurtadkan kiai ! Apalagi kalau jembatan Suramadu sudah jadi.
Saya sendiri sejak kecil sudah mampu memurtadkan teman-teman Islam saya. Mereka saya ajak Sekolah Minggu. Iming-imingnya roti, sepatu, tas, buku dsb. Akhirnya mereka dibaptis bersama-sama dengan saya. Herannya para orang tua mereka tidak risau sama sekali, menganggap tidak ada masalah. Mereka tidak paham kalau anak-anaknya tergiring ke neraka.

Menikah tahun 1986 dengan aktifis HMI sekaligus pengurus pengajian yang berhasil saya kristenkan. Kami punya anak tahun 1987.

Meskipun Kristen mengajarkan “Apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia.” tetapi Pendeta mengijinkan kami bercerai pada tahun 1992. Pendeta tidak punya solusi mengatasi keruwetan rumah tangga kami. Sejak itu banyak kasus gugatan perceraian keluarga kristen akhirnya diijinkan oleh pendeta. Daripada memaksakan utuhnya rumah tangga tetapi suasananya seperti dalam neraka.

Sejak itu anak saya diasuh orangtua saya di Lombok. Ia dididik menjadi seorang kristen yang militant dan misionaris. Memanfaatkan talenta dan pesonanya dia berhasil memurtadkan beberapa teman Islamnya.

Lewat bermusik, ia tak segan menyanyikan lagu-lagu religi Islami tetapi saat natal, gantian teman-teman muslimnya ia ajak ikut main musik di gereja sambil mempromosikan kehidupan gereja yang lebih enjoy sesuai nafsu dan selera anak muda. Pelan tapi pasti merekapun murtad masuk Kristen.
Kuliahnya di Universitas Kristen di Jogya jurusan Pastoral Konseling, kalau lulus jadi Pendeta! Juli 2007 saat kami dakwah ke Lombok, anak saya baru saja membagi-bagikan jilbab milik pacar-pacar muslimahnya yang berhasil ia kristenkan.

Sebenarnya sejak kecil saya sudah meragukan ajaran Kristen.

Saya sering berpikir, kenapa banyak sekali kejanggalan, hal tak nalar dan kisah-kisah amoral (BACA : SEX IN THE BIBLE). Setiap kali bertanya guru agama, frater, pendeta, pastur bahkan pakar theologia-pun jawabnya Ya & Amin, tidak boleh tanya. Atau muter-muter mengalihkan perhatian.
Dihukum guru & orang tua karena nekad bertanya adalah biasa! Geli juga kalau ditengking (seperti diruqyah) pendeta karena dianggap kemasukan roh kegelapan.

Namun meski ragu, saya tetap mencoba setia dengan kekristenan saya. Tetap melakukan kegiatan gereja walau kegalauan kian membengkak menyiksa nurani. Pindah ke Islam ? wow…sorry ! Secuilpun tak ada minat. Sama sekali !… kalau benci.., memandang rendah… Ya ! Kamipun sering melecehkan Islam.

Opini & persepsi negatif tentang Islam terlanjur mencengkeram erat di dalam benak kami. Bahwa Islam itu agamanya orang bodoh, melarat, pemalas, biang kerok segala kerusuhan dan kekerasan. Kebetulan kondisi umat Islam yang kami lihat di Lombok mendukung image negatif tersebut.
Namun yang namanya hidayah Allah, tidak seorangpun mampu menolaknya. “Jika Buku Pedoman sudah benar, baik dan sempurna maka tidak perlu direvisi”. Jika memang Bible/Alkitab/Injil sudah tuntas sempurna, kenapa Tuhan masih perlu menurunkan Al Qur’an ? Fakta itu mengusik logika saya. Menggoyahkan iman kristen saya.
Dra. Dewi Purnamawaty (Mantan Misionaris Kristen) : "Kalau Yesus Memang Tuhan Kenapa Para Nabi (Adam, Nuh, Ishak, dll) Tidak Menyembah Yesus ???"

Video : http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=0-J8XThMOXc

http://duniamuallaf.blogspot.co.uk/2013/11/sex-in-bible-waspadalah-injil-adalah.html#more

Benarkah Bible/Alkitab itu kitab suci ? wahyu Tuhan ?
Kenapa nabi Nuh dikisahkan mabuk anggur lalu telanjang ?
Nabi Luth diminumi anggur lalu di tiduri 2 putrinya bergantian dua malam berturut-turut ?

Kenapa mengumbar kisah super porno super cabul sangat vulgar ? Persundalan, zina kakak dengan adik, ibu dengan anak,bapak dengan putrinya, mertua dengan menantunya, lesbian (sex sesama perempuan), onani pun ada.
Iman atau syahwat kita kah yang menggelegak setelah membaca petualangan sex super dahsyat dari kakak beradik Ohola Oholiba di kitab suci Yehezkiel ?
(BACA : SEX IN THE BIBLE).

Alkitab melarang minum anggur dan mabuk, kenapa Yesus justru mengubah 6 drum air jadi minuman anggur untuk dihidangkan di pesta nikah ?

Kenapa minuman haram ini dijadikan lambang darah Yesus yang kudus dalam perjamuan kudus di gereja ? Pernah ketika perjamuan kudus satu piala anggur yg mestinya diminum bergiliran, dihabiskan seorang diri dan langsung mabuk. Berarti darah Yesus memabukkan ya ?

Kenapa Allah kalah bergelut dengan manusia ?

http://islamterbuktibenar.net/?pg=articles&article=16296Kenapa 
Tuhan menyesal dan keliru membuat kebijakan ?
Kenapa Allah dimuliakan dengan dusta ?
Kenapa laba dan upah sundal kudus bagi Tuhan ?
Kenapa Tuhan berhenti bekerja & perlu istirahat ? Apakah Tuhan kelelahan ?
Kenapa manusia bisa melahirkan Tuhan ?
Di saat Yesus ada di dunia, Allah ada di Surga. Ada Yesus duduk disebelah kanan Allah. Jelas kan Yesus dan Allah itu 2 oknum berlainan & terpisah ?
Kenapa dipaksakan bahwa Yesus itu Allah ? Yesus makan minum & tentunya buang hajat yang pasti najis ? Layakkah kalau Tuhan Maha Suci mengandung najis ? (BACA ; THE DARK BIBLE)

Yesus mengaku di utus, Allahlah yang mengutus.
Yesus mengakui tidak dapat berbuat apa-apa dari dirinya sendiri, sedangkan Allah Maha Kuasa. Yesus hanya melaksanakan kehendak Bapa, tetapi Allah Maha Berkehendak.
Yesus pun berdoa dan Allahlah Yang Mengabulkan Doa.
Yesus menolak dikatakan baik, Allahlah Yang Maha Baik.
Yesus menyerahkan nyawa kepada Allah. Bukankan level / derajat Yesus jauh dibawah Allah?

Kenapa Yesus disamakan dengan Allah ? Mungkinkah Utusan = Pengutus ? Lemah = Maha_Kuasa ? Pelaksana = Pengaturnya ? Pemohon = Pemberi ? Menyerahkan = Menerima ?

Kalau Yesus memang Tuhan kenapa Nabi-nabi & orang saleh Adam, Nuh, Ibrahim, Ishak, Ismail, Daud, Salomo, Musa, Zakaria, Maria, tidak ada ceritanya menyembah Yesus ?

Kalau Yesus = Tuhan = Allah dan Yesus mati disalib lalu dimana sifat Maha Hidup, Kekal, Tidak Berawal Tidak Berakhir dan Maha Kuasa-Nya ? Siapa yang kuasa mematikan Tuhan ?
Lalu saat Tuhan mati yang mengatur alam semesta ini siapa ? Yang menjawab doa siapa ? Yang menggantikan / mengambil peran Tuhan siapa ? Ataukan ada Tuhan lain yang mengendalikan alam semesta seisinya ?

Kenapa Tuhan punya silsilah bahkan ada 2 versi yang sangat berbeda (versi Matius dan Lukas) ? Berarti Tuhan punya bapak, kakek, buyut, nenek moyang ? Kenapa dalam daftar silsilah Tuhan Yesus ada Yehuda yang bersundal dengan Tamar menantunya ?

Lalu menurunkan Daud yang mengintip dan menzinahi Betsyeba istri Uria prajuritnya bahkan merancang terbunuhnya Uria ? Daud dan Betsyeba menurunkan Salomo yang beristri 700 bergundik 300. Salomo lebih mencintai istri-istrinya daripada Tuhan. Salomo juga menyembah berhala. Apakah Logis Tuhan Maha Suci, Maha Mulia adalah keturunan orang-orang pezina, amoral dan musyrik ? Ajaibnya lagi, tuhan Yesus itu keturunan Salomo sekaligus keturunan Natan kakak kandung Salomo. Nalar nggak ? Apakah iman itu harus memperkosa akal ? (BACA : SEX IN THE BIBLE)

TAUHID adalah menyembah hanya kepada Allah Yang Esa. Yesus dan para Nabi mengajarkan Tauhid. Ayat-ayat Tauhid bertebaran didalam Alkitab, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru. Tetapi Paulus mengajarkan penuhanan Yesus, menyembah Trinitas. Yesus mempertahankan Taurat tetapi Paulus mencampakkan Taurat. Kenapa lebih mengikuti Paulus daripada Yesus yang mereka pertuhankan ? Berarti lebih tuhan Paulus daripada Yesus ?

Seabreg kenapa, seabreg kemusykilan, seabreg kontradiksi, seabreg amoralitas didalam Bible semakin membuatku bimbang. Saya jadi malas dan enggan ke gereja, enggan membuka Bible apalagi sudah direvisi Al Qur’an.

Malam natal 24 Desember 1998, saya memaksakan diri mencoba untuk kembali mengikuti kebaktian, bukan kedamaian yang saya peroleh tapi galau itu semakin memuncak. Sejuta tanya tetap tak terjawab menggelorakan pemberontakan dalam hati. AGAMA, TUHAN, KITAB SUCI adalah masalah KEBENARAN BUKAN PEMBENARAN, maka harus tepat memilihnya karena berujung surga atau neraka !

Di saat Alkitab dan Gereja tidak mampu menjawab segala tanya sehingga semakin jauh dari hati, peristiwa mengerikan nyaris merenggut nyawa saya. Melaju kencang menuju Madiun, ban mobil saya tiba-tiba kempes tertancap potongan plat besi yang terlindas. Mobil jadi zig zag tak karuan. Seketika wajah jadi pucat pasi, jantungpun berdetak kencang. Ketakutan akan kematian spontan menghantui saya. Ngeri sekali ! akan kemanakah jiwaku jika aku mati ? Kristen sudah kutinggalkan dan belum menemukan agama yang benar. Untung Tuhan masih menyelamatkan. Saya berhasil mengendalikan mobil dan menepi. Berhenti di pinggir persawahan sangat luas, jauh dari mana-mana. Tiba-tiba kudengar suara Adzan magrib… Bergetar hati… inikah jawaban ? Saya harus segera memutuskan !

Ketika teman meminjami buku Akhlak Islam, Masya Allah saya begitu ta’jub.
Hal-hal yang nampaknya sepele pun oleh Islam diperhatikan, diatur dan ada petunjuknya didalam Al Qur’an maupun Hadist. Misal, sehabis hubungan suami istri wajib mandi besar, wanita haid tidak diperkenankan sholat , masuk masjid dan membaca Al Qur’an suci, istri pergi harus seijin dan diridhoi suaminya, yang jalan memberi salam yang duduk dsb. Tentulah hal-hal besar dan penting lebih diperhatikan lagi ! Islam betul-betul tuntunan dan pedoman hidup dari Tuhan. Sangat kontras dengan Kristen, dimana hal-hal besar dan wahyukan Allah alias rekayasa ajaran manusia semata.

Setelah bertahun-tahun saya mengalami pergulatan batin, melakukan perenungan serta memohon petunjuk kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, maka Februari 1999, Allah melapangkan dada saya untuk memeluk Islam, Agama Kebenaran, Agama Tauhid dari Allah, Agama yang dianut dan diajarkan oleh semua Nabi dan Rasul. Syariat Islam berkembang dari Rasul demi Rasul menuju syariat Rasul Muhammad saw yang telah tuntas, sempurna dan diridloi Allah.

Beberapa ujian setelah saya Islam antara lain :

1) Keluarga teman dan tetangga yang Kristen mengucilkan saya sementara orang-orang Islam masih mencurigai keislaman saya.

2) 14 Agustus 2001 Dokter memvonis umur saya tinggal 2 tahun karena sakit parah.
Saya sempat terperosok kedalam kesesatan. Sholat di masjid-masjid kuno, akrab dengan kuburan-kuburan keramat/wali minta berkah, makan roti dirajah tulisan arab, amalan ini itu, pakai ini itu agar terkabul hajat.

Semua saya lakukan atas petunjuk Kyai, yang katanya kebal senjata, dapat memukul lawan dari jarak jauh. Terkuaklah dusta Kyai. Ketika saya menghadapi masalah dikepung orang orang yang akan mencelakai saya. Sang kyai tidak mampu berbuat apa-apa selain komat-kamit didalam rumah tidak berani keluar.
Ketika mengalami kecelakaan, sang Kyai cidera berat dan anaknya meninggal. Dimana keampuhannya ? Dzikir tahlil wiridan semalam suntuk lebih diutamakan daripada kewajiban sholat subuh tepat waktu berjamaah di masjid. Jadwal sholat subuhpun bergeser jam 10 pagi karena bangunnya selalu siang.

3) Usaha bangkrut ditipu Kyai yg berlagak membimbing saya. Mungkin Allah menegur saya karena mengabaikanNya, lebih taat dan bergantung pada Kyai.

4) Suami saya kedua, satu-satunya manajer yang kokoh beragama Islam di suatu perusahaan otomotive besar, diperlakukan sangat diskriminatif dan tidak menyenangkan oleh pimpinannya yang baru saja diangkat sebagai pendeta. Oleh teman-temannya yang aktifis gereja, dikondisikan agar tidak kerasan dan akhirnya memilih mengundurkan diri.

5) 18 Agustus 2003 ketika keislaman saya mulai bersemi suami saya kedua yang mengenalkan Islam dan membimbing saya, tanpa sakit dipanggil Allah SWT. Padahal ketika itu justru sayalah yang sedang sakit keras dan pedihnya lagi uang didompetpun tinggal Rp. 10.000,-

6) Seminggu kematian suami, Ibu datang dari Lombok menekan saya untuk kembali Kristen. Ketika saya nekad Islam maka semua biaya hidup saya sejak kecil hingga dewasa harus saya kembalikan. Untung saya punya Allah tempat bergantung dan Maha Kaya. Dibantu Ustad dan beberapa rekan saya mampu mengembalikan apa yang diminta Ibu.

7) Karena menjanda lagi dan sendiri, saya bermaksud mengambil anak saya yang dipelihara ibu saya di Lombok untuk saya didik dan menemani saya di Solo. Tetapi tidak diperkenankan Ibu kecuali kalau saya kembali Kristen. Padahal untuk mendapatkan anak yg semata wayang itu, ibaratnya, saya harus mempertaruhkan nyawa hampir keguguran sampai 3X. Sayapun susah payah mengandungnya.

8) Malam 27 Ramadhan Tahun 2004 anak saya dari Lombok menelpon memberikan pilihan : ‘Pilih Anak atau Agama’, kalau pilih anak harus kembali ke Kristen. Karena saya telah bersyahadat, berikrar setia kepada Allah, maka tegas tanpa ragu tidak perlu berpikir panjang saya pilih agama.

Allah lebih pantas dicintai, lebih pantas dinomor satukan, lebih kokoh dijadikan tempat bergantung daripada apapun juga termasuk anak dan seluruh keluarga. Sejak itu pula saya resmi di PHK seluruh keluarga.

Oleh nenek saya dari pihak ibu, saya di PHK sebagai cucu, Pakde Bude memPHK saya jadi keponakannnya, Bapak-Ibu memPHK saya sebagai anak, adik-adik yang sejak kecil saya turut mengasuh, membiayai pendidikan dan pernikahan mereka, telah memPHK saya sebagai kakak.

Aktif Berdakwah

Kalaupun dalam mempertahankan Islam, kehilangan harta, anak dan keluarga masih belum cukup, masih pula harus kehilangan hidup dan nyawa saya satu-satunya, asal tidak kehilangan ridho dan rahmat_Mu Ya Allah, hamba siap ! Semoga Allah mengokohkan iman hamba.

Prihatin dengan maraknya pemurtadan dan kristenisasi, padahal saya telah paham dan meyakini betul benarnya Islam dan sesatnya Kristen, maka saat ini saya bergabung dengan Forum Arimatea Solo menyampaikan mana agama yang Haq mana agama yang Batil. Turut berdakwah membentengi umat dari bahaya pemurtadan & kristenisasi.

Saya pun jadi biasa menerima ancaman. Pernah dilaporkan di kelurahan dianggap membuat keresahan, akan dilaporkan polisi, akan dibunuh, akan digantung maupun akan dirobek-robek muka saya.

Tetapi saya tidak gentar dan Insya Allah tidak akan mundur sejengkalpun. Karena Allah yang Maha Kuasa dan Maha menepati janji menjanjikan lewat Qur’an surat Muhammad ayat 7 : “BARANGSIAPA MENOLONG AGAMA ALLAH MAKA ALLAH AKAN MENOLONGNYA DAN MENGUKUHKAN KEDUDUKANNYA.” Dan siapapun tak akan mampu mendatangkan kemudharatan jika Allah tidak menghendaki itu terjadi.
Gelombang ujian yang bertubi-tubi janganlah menyurutkan iman. Allah tidaklah zalim membuat hambaNya menderita. Allah mencintai hambaNya, menatar dan menggembleng hambaNya agar layak menempati kedudukan yang lebih mulia disisiNya.
Sungguh mengagumkan orang mukmin itu, diuji penderitaan ia bersabar. Itu baik baginya. Diuji nikmat ia bersyukur dan itupun baik baginya.

Inilah sekelumit kisah kegalauan saya terhadap Kristen yg saya anut selama 30an tahun dan perjuangan saya dalam mempertahankan hidayah Dienul Islam. Agama mulia yang mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah.

Satu-satunya jalan lurus menuju rahmat Allah, keselamatan, kebahagiaan dan kenikmatan hakiki dan abadi … Surga Allah ! [dbs/duniamualaf/ali/voa-islam.com]

Carolyn Erazo: masuk Islam karena Agama Islam Masuk Akal



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  -- Ada banyak inkonsistensi yang tampak di hadapan pemilik nama lengkap Carolyn Erazo ini. Tapi, tidak sedikitpun keinginan terlintas di hati Erazo untuk mencari tahu. Ia hanya berpikir, bagaimana kita bisa memercayai apa yang tidak kita ketahui?

Apakah semua peristiwa benar-benar terjadi seperti yang dikisahkan Alkitab, atau jangan-jangan Alkitab itu hanya sebuah 'buku cerita' yang terselip di antara deretan rak buku.

Beberapa tahun kemudian, Erazo menghadiri sebuah retret gereja. Dari sanalah, awalnya perempuan yang besar di keluarga Kristen ini memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia melakukan refleksi atas kejadian-kejadian yang telah lampau.

Pada hari terakhir retret, Erazo berjalan menyusuri bukit besar hingga ke pantai dan terduduk memandangi lautan. Perempuan itu sendirian. Ia begitu berharap Tuhan mengulurkan tangan dan menyentuhnya dengan penuh kasih. Sore itu, ia merasa telah datang kepada-Nya dengan segenap keyakinan bahwa Dia-lah satu-satunya penolong.

Peristiwa itu terjadi pada akhir Oktober, saat suhu air sedikit lebih dingin dibanding bulan-bulan lain. Di tepi pantai, Erazo terus sibuk dengan gemuruh pikirannya. Ia berteriak-teriak memanggil Tuhan di dalam benak. Tapi, Tuhan tak datang hari itu. Kejadian itu membekas di benaknya. Ia putus asa. 

Saat itulah, air mata hangat mendadak mengalir di wajah Erazo. Ia menyerah pada Tuhan. "Baik, kalau Dia melupakanku, aku juga akan melupakannya," kata Erazo saat itu, membeberkan kisah perjalanan spiritualnya seperti dikutip dari Muslim Village.

Selama tahun-tahun berikutnya, ia hidup tanpa iman. Ia belum menemukan jawaban apa pun atas kegelisahannya. Setiap pertanyaan yang muncul malahan membuat Erazo semakin marah lantaran tidak pernah ada jawaban

Sampai kira-kira empat tahun lalu, hatinya terbuka kembali. Akhir Februari, ia tengah menghadiri sebuah upacara pemakaman. Erazo takjub melihat sikap si ibu dari mendiang. Perempuan yang tengah berdukacita itu sanggup berbicara pada Tuhan dengan lapang dada, tanpa jerit tangis kesedihan.

Erazo heran. Perempuan itu memahami kenyataan bahwa anaknya kini tenang bersama Tuhan. Sesuatu yang tidak dapat ia pahami. Ia menatap perempuan itu dengan iri. Si ibu itu pasti memiliki keimanan yang kuat pada Tuhan. Kesan itu tidak pernah pudar hingga beberapa hari kemudian.

Erazo butuh waktu sepekan, sampai ia memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia harus menemukan Tuhan dan menjawab pertanyaan yang berkelindan di benaknya. "Tentu saja, saya memulai perjalanan dari Kristen. Agama tempat saya dibesarkan," kata Erazo. Tapi, nyatanya ia hanya mendapat sedikit percikan iman. Setelah beberapa bulan, Erazo pun memperluas skala pencarian.

Kali ini, perempuan Amerika itu ingin menjajaki Islam. Ia mencari masjid, namun terheran mengapa sulit benar menemukan tujuannya itu. Padahal, ia sudah memegang alamat. Erazo begitu marah.

Merasa sia-sia, terpikir olehnya untuk mencari masjid di hari lain. Apalagi, ia sudah terlambat masuk ke kantor. Ia menelepon atasannya dalam kondisi frustrasi dan berurai air mata. Di luar dugaan, jawabannya benar-benar menakjubkan. "Jangan khawatir, Kawan. Saya tahu tempat itu. Saya akan membantumu menemukannya."


Singkat cerita, Erazo sampai di masjid yang dia tuju. Jauh di lubuk hati, ia merasa agak ketakutan. "Bagaimana jika mereka melemparkan saya ke sebuah ruang bawah tanah dan menjual saya ke negara di dunia ketiga?" kelakar Erazo pada bosnya dalam perjalanan. Bosnya hanya tertawa mendengar pikiran konyol itu.

Kendati gemetar, Erazo mendekati pintu dan membukanya. Seorang pria mendekati Erazo lantaran ia berdiri di pintu masuk dan menanyakan imam. Ia diberi tahu bahwa imam tidak ada di tempat, tapi ia meyakinkan bahwa mereka akan menghubunginya setelah Imam datang. Erazo menuliskan nomor dan bergegas keluar. Jujur, ia tidak yakin akan ditelepon.

Sebelum pergi, orang yang berbicara kepadanya sempat memperkenalkan nama sang imam. Abdul Lateef, namanya. Sejak keluar dari masjid itu, Erazo langsung fokus memikirkan kapan imam Abdul Lateef akan menelepon dia. Perempuan itu harap-harap cemas, antara ingin ditelepon dan takut ditelepon. Kurang dari dua jam kemudian, ia tidak bisa percaya bahwa imam Abdul Lateef benar-benar menelepon.

Ketakutannya segera terhapus mendengar suara di ujung telepon. Imam Abdul Lateef mengundangnya untuk datang dan bertemu dengan dia pada malam itu. Carolyn membuat estimasi waktu tak lebih dari lima belas menit untuk pertemuan perdananya. Keduanya pun akhirnya bertatap muka. 

Erazo mengungkapkan kegundahan dan perasaan yang ia alami. Imam Abdul Lateef tak banyak berkomentar. Ia membiarkan Erazo mencurahkan segenap kerisauannya. Setelah usai, barulah imam Abdul Lateef menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan runtut.

Selama beberapa bulan kemudian, Erazo melahap berbagai literatur yang berkaitan dengan Islam. Ia harus tahu lebih banyak sebelum memutuskan. Agama ini masuk akal, kata Erazo, tidak ada yang membuat perempuan itu meragukan kebenaran Islam.

Muslim juga tidak mengerikan, sebagaimana anggapan masyarakat. Bahkan, dalam beberapa hal, mereka lebih baik daripada orang-orang Amerika. Kendati ada Muslim yang pernah melakukan aksi-aksi teroris, seperti yang diklaim Barat dan Amerika, Alquran tidak mengajarkan itu.

Keinginan Erazo untuk melakukan konversi tak tertahankan lagi. Tapi, ia merasa belum siap. "Bagaimana saya menjelaskannya? Tidak ada yang mengerti. Mayoritas di lingkungan saya mengatakan, Islam tidak sesuai dengan identitas kami," kata Erazo, yang berkulit putih ini.

Hati dan pikirannya terbuka untuk Islam, tapi ia masih belum memutuskan tekad. Ia membuat seribu satu alasan mengapa ia tak bisa. Termasuk, soal ibadah Ramadhan. Ia takut akan kewajiban puasa itu.

Erazo ingat dengan jelas apa yang dikatakan imam Abdul Lateef ketika ia mengungkapkan kekhawatirannya. "Sister, Ramadhan seharusnya tidak menakut-nakutimu. Saya jamin, Anda akan bersyahadat sebelum Ramadhan berakhir," kata dia. Tebakan imam Abdul Lateef benar! Dua pekan selepas Ramadhan, Carolyn Erazo bersyahadat.

Ia begitu gugup saat memasuki masjid untuk bersyahadat. Perasaannya tidak terlukiskan. Malam itu juga, ia menelepon Abdul Lateef. Imam itu hanya tertawa kecil. Ia percaya Erazo tinggal menunggu momentum.

Juni 2015 ini, tepat tiga tahun Erazo masuk Islam. Perempuan itu mengakui, seseorang tidak mungkin bisa hidup tanpa keyakinan dan iman. Ia mulai aktif di berbagai forum mualaf. "Saya akan terus belajar memberikan respons-respons cerdas terhadap semua sentimen anti-Muslim yang dilemparkan pada saya," ucapnya yakin.
 
.

Philip Flood: Masuk Islam karena masuk akal dan Tenteramkan Hatiku

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Proses pencarian yang panjang akhirnya mengantarkan Philip Flood kepada Islam. Baginya risalah yang dibawa Muhammad SAW tersebut mampu memberikan Flood ketenteraman batin dalam arti yang sesungguhnya. Kini, 13 tahun sudah pria asli Irlandia itu menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.


Flood berasal dari keluarga yang bermukim di Ringsend, sebuah kawasan di pinggiran Kota Dublin. Ayah dan ibunya merupakan penganut Katolik. Walaupun begitu, ia mengaku tidak pernah meyakini ajaran Nasrani tersebut.

Ia mengungkapkan, kebanyakan orang akan memeluk agama yang dianut oleh keluarga yang membesarkannya. Namun, tidak demikian halnya dengan Flood. “Saya tidak pernah merasa memperoleh kebenaran dari ajaran Katolik,” ujar Flood membuka kisah perjalanan spiritualnya, seperti dikutip Irish Independent. 

Semasa kecilnya, Flood sempat melaksanakan sejumlah ritual Katolik. Mulai dari Komuni Kudus Pertama, Konfirmasi, menghadiri Misa, hingga menjadi putra altar. Di samping itu, ia juga memiliki pergaulan yang baik dengan kalangan pastor dan suster.  “Namun, itu semua tidak mengubah keyakinan saya. Saya tidak pernah percaya kepada Yesus yang berada di tiang salib,” katanya.

Sebelum berkenalan dengan Islam, Flood sempat menjadi pemeluk Buddha selama lima tahun. Ia juga pernah terlibat kecanduan alkohol dan obat-obatan sehingga harus menjalani rehabilitasi. Dalam salah satu program pemulihan yang dijalaninya ketika itu, Flood diminta untuk melakukan meditasi dan memperbaiki hubungan sadarnya dengan Tuhan. Dari situ, Flood mulai melirik ajaran agama-agama lain di luar Kristen.

“Saya masih lajang pada waktu itu dan saya tidak pernah siap untuk berkeluarga karena gaya hidup yang saya jalani,” ujarnya.Suatu ketika, Jumat malam, Flood sedang berjalan-jalan di pinggir Pantai Sandymount Strand yang berada di timur Kota Dublin. Di sana, ia berjumpa dengan sepasang suami istri Muslim asal Libya. Setelah perkenalan singkat, Flood pun mulai terlibat percakapan dengan mereka.

“Di antara topik yang kami bahas ketika itu juga menyinggung soal agama. Saya ceritakan kepada mereka tentang Buddha dan ajaran-ajarannya. Sedangkan, mereka pun menceritakan kepada saya tentang Islam,” ujarnya.

Selepas pertemuan di pantai tersebut, pasangan suami istri tadi mengajak Flood untuk mengunjungi apartemen mereka. Di situ, ketiganya kembali terlibat diskusi tentang beragam topik. Sejak itu, Flood pun mulai terbiasa berkunjung ke kediaman pasangan Muslim asal Libya tersebut.

Setelah cukup lama bergaul dengan mereka, Flood akhirnya merasa tertarik untuk mempelajari Islam. Karenanya, ia pun membeli sebuah Alquran di salah satu toko Pakistan yang berada di pusat kota Dublin. “Saya mulai bisa memahami Alquran lebih banyak setelah mendiskusikannya dengan pasangan suami istri Libya yang kini sudah menjadi sahabat saya,” katanya.

Pada satu waktu Flood menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid. Di sana, ia mendengar seruan azan. Ketika itu, Flood merasa seolah-olah jiwanya telah terhubung dengan seruan shalat tersebut. “Ada pengalaman sangat spiritual yang saya rasakan ketika berada di masjid,” ujarnya mengaku.
Akhirnya, momen penting itu datang juga. Pada 2002 Flood akhirnya mengikrarkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim. Beruntungnya lagi, keluarga Flood menyambut keislamannya itu dengan antusias. “Keluarga saya senang melihat perubahan dalam diri saya,” katanya.

Beberapa tahun lalu, pada usianya yang tak lagi muda, Flood menikahi seorang Muslimah asal Maroko. Keduanya sekarang dikaruniai dua orang anak. Setiap hari Flood rutin mendengarkan lantunan Alquran walaupun hanya sepotong kecil ayat.

Ia juga terus mendalami ajaran Islam agar bisa menjadi Muslim yang lebih baik ke depannya. Bagi Flood Islam betul-betul menghadirkan ketenteraman batin yang selama ini selalu dicarinya. Ia pun mengaku merasa jauh lebih baik setiap kali menunaikan shalat fardhu lima kali sehari.

“Di rumah, saya sering memutar stasiun televisi Arab hanya untuk menyaksikan dua tempat suci umat Islam, yakni Makkah dan Madinah. Saya mendapatkan banyak kedamaian ketika menonton itu,” aku pria Irlandia 61 tahun itu

Ustad Arifin Ilham , Mualaf Az-Zikra Bertambah lagi, Kini Capai 674 Orang




Dua mualaf yang berikrar syahadat di Masjid Az-Zikra Sentul, Bogor, Ahad (10/9).
REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Jumlah orang non-Muslim yang berikrar menjadi Muslim (mualaf) melalui Majelis Az-Zikra terus bertambah dari waktu ke waktu. Salah satu momentum yang paling sering diisi dengan pengucapan ikrar dua kalimat syahadat itu adalah saat Tausiyah Zikir yang digelar di Masjid Az-Zikra Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Seperti yang terjadi pada Tausiyah Zikir di Masjid Az-Zikra, Sentul, Ahad (10/9). Pada kesempatan tersebut ada dua wanita yang mengucapkan dua kalimat syahadat. “Allahu Akbar walillaahilhamdu kembali gemuruh takbir membahana waktu Dhuha Ahad ini di Masjid Az Zikra Sentul Bogor sebagai rasa syukur bahagia atas masuk Islamnya dua  saudari kita,” kata Pimpinan Majelis Az-Zikra Ustaz Muhammad Arifin Ilham melalui pesan instan yang diterima Republika.co.id, Ahad (10/9).

Ia menambahkan, kedua mualaf itu adalah Fransisca Agnes, Vique Que (35 tahun), Kristen Katolik, dengan  nama Islam Siti Khodijah. Kedua, Mocica Ratna Ayu Larasati, Tegal, 24 tahun, Kristen Katolik, dengan nama Islam Siti Aisyah.

“Subhanallah walhamdulillah kini mualaf  Az-Zikra  bertambah lagi  menjadi 674 orang.  Insya Allah akan terus bertambah saudara saudari Muslim kita karena hidayah Allah. Aamiin,” tutur Arifin.

Arifin juga menginformasikan kepada kaum Muslmin, insya Allah kembali Tawshiyah Zikir bulan depan akan digelara pada  Ahad 11 Muharam / 1 Oktober 2017. Acara tersebut digelar di Masjid Az-Zikra Sentul, Bogor, pukul 07.00-10.00 WIB.

Artis Esal Revano masuk Islam di dukung sang bunda

Esal Revano


Liputan6.com, Jakarta - Penyanyi muda Esal Revano telah resmi menjadi seorang muslim. Esal mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (20/4/2017).
Usai bersyahadat, pria berdarah Toraja ini menyampaikan ucapan syukur dan terima kasihnya, terlebih kepada keluarganya. Ia juga menceritakan kisahnya ketika meminta izin dari sang ibu, yang notabene seorang non-muslim.


"Keluarga saya sebagian besar non muslim. Tante saya ada yang muslim, dia juga mualaf. Tapi saya sudah minta izin ke keluarga, terutama ke ibu saya yang melahirkan saya. 'Ibu, saya ingin masuk Islam, karena saya merasa nyaman di sini. Saya juga sudah dewasa, saya bisa menentukan pilihan saya,'" terang Esal Revano.
Selain mengizinkan, sang ibu juga berpesan kepada Esal Revano. "Dan ibu saya bijaksana banget, merestui saya masuk Islam. Hanya satu pesan ibu saya, jangan lupa sama keluarga," kata Esal Revano lagi.
Esal melanjutkan, "Ibu saya bilang semua agama itu baik. Kamu sudah besar, kamu sudah tahu mana yang baik mana yang buruk. Kamu bisa tentukan hidup kamu yang lebih baik."

Muallaf di kepulauan Mentawai terus bertambah

Ketua YMPM, Muhammad Shiddieq, bersama dengan salah satu kepala suku di Mentawai. (Foto: Hamzah/Humas YMPM)

YMPM: Mualaf Mentawai Membutuhkan Masjid

Padang, 6 Sya’ban 1438/ 3 Mei 2017 – Ketua Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM), Sumatera Barat, Muhammad Shiddieq mengatakan jumlah mualaf  di Kepulauan Mentawai terus bertambah,  wilayah tempat mukim pemeluk Islampun semakin meluas.
Sehubungan dengan itu YMPM bersama para mualaf Mentawai , merasa,  sangat diperlukan pendirian masjid di perkampungan mualaf di pedalaman Mentawai. Demikian keterangannya pada MINA, Rabu
Menurut data YMPM, populasi muslim di Mentawai terus meningkat. Di tahun 2010 Muslim hanya berjumlah 15 %, akhir tahun 2015 populasi muslim sudah berjumlah 22,3 %, dan di tahun 2017 ini jumlah umat Muslim di Mentawai dperkirakan akan terus meningkat.
“Alhamdulillah… Dengan limpahan hidayah dari Allah swt, mualaf Mentawai terus bertambah, penyebaran wilayah Islampun semakin meluas. Hingga sekarang masih banyak perkampungan muallaf Mentawai dimana jumlah .sudah banyak namun masjid di kampung tersebut belum ada,” . ujar Siddiq.
Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM) sebagai lembaga yang fokus berdakwah di Mentawai semenjak 8 tahun silam, dengan program mengayomi dan membina mualaf sangat merasakan betul betapa urgent pendirian masjid di Perkampungan Mualaf Mentawai.
“Sejauh ini masih banyak dusun atau desa yang belum memiliki masjid disana, padahal muallafnya sudah banyak. Para Mualaf tidak memiliki masjid sebagai tempat sarana ibadah, seperti tempat shalat, pengajian, silaturrahim hingga tempat belajar iqra’ dan membaca Al-Qur’an,” tambahnya.
Di samping itu, dengan tidak adanya Masjid syiar Islam juga sangat terkendala.
“Para mualaf berharap, agar kesulitan yang mereka alami dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT semoga cepat terselesaikan. Amin…,” pungkas Sidiq.
Merasakan kesulitan yang dihadapi para Muallaf Mentawai. YMPM sebelum ini telah membangunkan dua Masjid di Mentawai. Karena masih banyak perkampungan muallaf belum memiliki masjid.
“Bulan Ramadhan akan tiba, Pengurus YMPM bertekat untuk menambah pembangunan masjid di perkampungan baru para muallaf. Alhamdulillah, sekarang ini pengurus YMPM sedang membangunkan tiga Masjid di Pedalaman Mentawai. Tiga masjid tersebut terletak di, Dusun Tolaulagog Desa Katurai, Desa Saliguma dan Dusun Tinambou,”jelasnya.
Sidiq mengungkapkan, dalam mengerjakan pembangunan tiga masjid tersebut, YMPM sangat terkendala dalam biaya.
Donasi pembangunan masjid di Perkampungan Muallaf Mentawai dapat disalurkan melalaui:
Bank Nasional Indonesia Syariah. Cab. Bukittinggi. No. Rek. 0397762727,
Bank Syariah Mandiri. Cab. Payakumbuh. No. Rek. 7083758238.
Atas Nama : YAYASAN MUSLIM PEDULI MENTAWAI.
Konfirmasi via SMS/ WA : Hamzah Abu Maryam (Datinfo YMPM).
No.  0823 8632 1556
Bersama dengan muallaf Mentawai di lokasi rencana pembangunan Mesjid

Tiga Bulan, 150 Penduduk Mentawai Bersyahadat

Lima orang penduduk Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat kembali besyahadat pada pekan kedua Maret 2015.
“Alhamdulillah jumlah muallaf di Mentawai semakin bertambah. Lima orang penduduk Desa Gotab, Mentawai bersyahadat,” kata Muhammad Shiddieq, Ketua Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM) kepada hidayatullah.com belum lama ini.
Dengan bertambahnya lima orang muallaf ini, maka dalam kurun Januari-Maret 2015 jumlah muallaf di Mentawai mencapai 150 orang.
“Januari lalu kita mengislamkan 33 orang. Kemudian Februari kita islamkan 112 orang. Dan Maret ini 5 orang. Jadi total 150 muallaf,” jelas Shiddieq. [Baca: Sebanyak 112 Warga Mentawai Bersyahadat Massal]
Menurut Shiddieq, keputusan 150 penduduk Mentawai bersyahadat  tidak ada unsur paksaan, apalagi iming-iming materi.
“Alasannya mereka tidak puas dengan konsep agama nenek moyangnya,” ungkap Shiddieq.
Dengan tambahan jumlah muallaf ini, tentunya tugas dakwah di Mentawai semakin berat. Ratusan muallaf ini tersebar di beberapa dusun yang jarak antar dusun puluhan kilometer.
“Biaya transportasi di sana mahal. Harga bensin bisa sampai 25ribu per liter. Kita rencana akan menempatkan dai di dusun-dusun itu untuk pembinaan muallaf,” terang Shiddieq.
Shiddieq berharap bantuan dari umat Islam di mana pun berada. Karena ini kerja dakwah jangka panjang, sehingga membutuhkan banyak dukungan materi. [Baca: Ratusan Muallaf Mentawai Butuh Mukena]
Bagi para pembaca yang berniat membantu mensukseskan dakwah di Kepulauan Mentawai bisa menghubungi langsung Account Facebook Muhammad Shiddieq  Hp 0853-6429-6465.
Para Muallaf di Dusun Tiop kepulauan Mentawai setelah bersyahadat.

33 Warga Mentawai Bersyahadat

Para dai pedalaman yang tergabung dalam Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM) menggelar acara syahadat massal, Senin (4/1) lalu. Dalam acara tersebut, sebanyak 13 orang mualaf bersyahadat disaksikan ratusan umat Islam di Masjid Islamic Centre Desa Mailepet Kecamatan Siberut Barat Daya Kepulauan Mentawai.
Ketua YMPM Ustadz Muhammad Shiddieq mengatakan, pensyahadatan tersebut sudah tahapan yang ketiga kalinya yang digelar pengurus YMPM kepada warga Dusun Tiop dalam kurun waktu dua pekan terakhir. “Pensyahadatan sebelumnya dilaksanakan di Sekretariat YMPM Desa Maileppet Kecamatan Siberut Selatan. Pensyahadatan tahap pertama berjumlah 15 orang. Sedangkan pada tahap dua berjumlah 5 orang,” jelas Ustadz Shiddieq kepada Republika, Ahad (10/1) lalu.
Shiddieq yang mengaku baru saja pulang dari Mentawai tersebut mengisahkan, para mualaf yang baru saja masuk Islam tersebut disambut penuh haru. Semakin hari, semakin bertambah saja anggota keluarga umat Islam di Kepulauan Mentawai. Menurutnya, masih banyak lagi warga Mentawai yang antusias dengan ajaran Islam dan kemungkinan akan masuk Islam sesegranya.
“Pensyahadatan sebelumnya dibimbing langsung oleh da’i YMPM Ustadz Iman Sulaeman. Untuk yang tahap ketiga ini, saya langsung yang membimbing didampingi rekan-rekan YMPM yang banyak datang dari luar Mentawai,” kisah Ustaz Shiddieq.
Dengan bertambahnya jumlah muallaf 13 orang tersebut, jumlah para muallaf yang telah masuk Islam dalam dua pekan terakhir sudah mencapai 33 orang. “Ini semua berkat limpahan hidayah dari Allah SWT. Sekarang jumlah Muslim di Tiop sudah 33 orang, Alhamdulillah,” ujar Shiddieq.

Bernard Nababan mantan Pendeta masuk Islam

Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya. Bermula dari rencana melakukan misi diperkampungan Muslim, berlanjut pada memenuhi tawaran dialog dengan para tokoh masyarakat muslim, namun akhirnya kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada Hidayah Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam.
Saya lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard Nababan. Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari harapan mereka.
Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini saya mendapat pendidikan penuh. Saya wajib mengikuti kegiatan seminari. Kemudian, saya diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama tiga tahun enam bulan pada Gereja HKBP Sebagai calon pendeta dan penginjil pada Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).
Tahun 1989 saya diutus bersama beberapa teman untuk berkunjung ke suatu wilayah. Tujuan kegiatan ini, selain untuk memberi bantuan sosial kepada masyarakat, khususnya masyarakat muslim, juga untuk menyebarkan ajaran Injil. Dua prioritas inilah yang menjadi tujuan kami berkunjung ke perkampungan muslim. Memang, sebagai penginjil kami diwajiban untuk itu. Sebab, agama kami (Kristen) sangat menaruh perhatian dan mengajarkan rasa kasih terhadap sesamanya.
Berdialog
Dalam kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan para pemuka kampung. Mereka menanyakan maksud kedatangan kami. Kami menjawab dengan terus terang. Keterusterangan kami ini oleh mereka (tokoh masyarakat) dijawab dengan ajakan berdialog. Kami diajak ke rumah tokoh masyarakat itu. Di sana kami mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat itu mengakui, tujuan kegiatan kami tersebut sangat baik. Namun, ia mengingatkan agar jangan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama. Mereka pada prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.
Agama Kristen, masih menurut tokoh masyarakat itu, hanya diutus untuk Bani Israel (orang Israel) bukan untuk warga di sini, Kami hanya diam. Akhirnya, tokoh masyarakat itu mulai membuka beberapa kitab suci agama yang kami miliki, dari berbagai versi. Satu per satu kelemahan Alkitab ia uraikan. la juga membahas buku Dialog Islam-Kristen antara K.H. Baharudin Mudhari di Madura dengan seorang pendeta.
Dialog antara kami dan tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah terdengar azan magrib. Kemudian, kami kembali ke asrama sebelum kegiatan itu berlangsung sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat tersebut terus membekas dalam pikiran saya. Lalu, saya pun membaca buku Dialog Islam Kristen tersebut sampai 12 kali ulang. Lama-kelamaan buku itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya, saya ditegur oleh pendeta. Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti Alkitab. “Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga pernah mengikuti kuliah seminari,” katanya dengan nada menantang dan sinis.
Kabur dari Asrama
Sejak peristiwa itu, saya jadi lebih banyak merenungkan kelemahan-kelemahan Alkitab. Benar juga apa yang dikatakan tokoh masyarakat itu tentang kelemahan kitab suci umat Kristen ini. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti menjadi calon pendeta. Saya harus meninggalkan asrama. Dan pada tengah malam, dengan tekad yang bulat saya lari meninggalkan asrama. Saya tak tahu harus ke mana. Jika pulang ke rumah, pasti saya disuruh balik ke asrama, dan tentu akan diinterogasi panjang lebar.
Kemudian saya pergi naik kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu saya berkenalan dengan seorang muslim yang berasal dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian saya dan posisi saya yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke kota Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal selama satu tahun. Saya dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka. Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.
Selama tinggal di rumah orang muslim tersebut, saya merasa tenteram. Saya sangat kagum padanya. Ia tidak pemah mengajak, apalagi membujuk saya untuk memeluk agamanya. la sangat menghargai kebebasan beragama. Dari sinilah saya mulai tertarik pada ajaran Islam. Saya mulai bertanya tentang Islam kepadanya. Olehnya saya diajak untuk bertanya lebih jauh kepada para ulama. Saya diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok Pesantren Rhoudhotul ‘Ulum, yaitu K.H. Khotib Umar.
Kepada beliau saya utarakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama dan kegiatan saya. Tak lupa pula saya jelaskan tentang keraguan saya pada isi Alkitab yang selama ini saya imam sebagai kitab suci, karena terdapat kontradiksi pada ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab secara panjang lebar, K.H. Khotib Umar tampak sangat terharu. Secara spontan beliau merangkul saya sambil berkata, “Anda adalah orang yang beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya.”
Setelah itu beliau mengatakan, jika ingin mempelajari agama Islam secara utuh, itu memakan waktu lama. Sebab, ajaran Islam itu sangat luas cakupannya. Tapi yang terpenting, menurut beliau adalah dasar-dasar keimanan agama Islam, yang terangkum dalam rukun iman.
Masuk Islam
Dari uraian K.H. Khotib Umar tersebut saya melihat ada perbedaan yang sangat jauh antara agama Islam dan Kristen yang saya anut. Dalam agama Kristen, saya mengenal ada tiga Tuhan (dogma trinitas), yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Agama Kristen tidak mempercayai kerasulan Muhammad SAW, Bahkan, mereka menuduhnya tukang kawin. Mereka juga hanya percaya kepada tiga kitab suci, Taurat, Zabur, dan Injil.
Ajaran Kristen tidak mempercayai adanya siksa kubur, karena mereka berkeyakinan setiap orang Kristen pasti masuk surga. Yang terpenting bagi mereka adalah tentang penyaliban Yesus, yang pada hakekatnya Yesus disalib untuk menebus dosa manusia di dunia.
Penjelasan K.H. Khotib Umar ini sangat menyentuh hati saya. Penjelasan itu terus saya renungkan. Batin saya berkata, penjelasaan itu sangat cocok dengan hati nurani saya. Lalu, kembali saya bandingkan dengan agama Kristen. Ternyata agama Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada agama Kristen yang selama ini saya anut. Oleh karena itu saya berminat untuk memeluk agama Islam.
Keesokan harinya, saya pergi lagi ke rumah KH. Khotib Umar untuk menyatakan niat masuk Islam. Beliau terkejut dengan pernyataan saya yang sangat cepat. Beliau bertanya, “Apakah sudah dipikirkan masak-masak?” “Sudah,” suara saya meyakinkan dan menyatakan diribahwa hati saya sudab mantap.
Lalu beliau membimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum ikrar saya ucapkan, beliau memberikan penjelasan dan nasehat. Di antaranya, “Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam. Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu. Jadi, pada hakikatnya Islam adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrahnya,” ujar beliau panjang lebar. Saya amat terharu. Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua mata saya.
Sehari setelah berikrar, saya pun dikhitan. Nama saya diganti menjadi Syamsul Arifin Nababan. Saya kemudian mendalami ajaran Islam kepada K.H. Khotib Umar dan menjadi santrinya. Setelah belajar beberapa tahun di pondok pesantren, saya amat rindu pada keluarga. Saya diizinkan pulang. Bahkan, beliau membekali uang Rp 10.000 untuk pulang ke Sumatra Utara.
Dengan bekal itu saya akhirnya berhasil sampai ke rumah orang tua. Dalam perjalanan, banyak kisah yang menarik yang menunjukkan kekuasaan Allah. Sampai di rumah, ibu, kakak, dan semua adik saya tidak lagi mengenali saya, karena saya mengenakan baju gamis dan bersorban. Lalu, saya terangkan bahwa saya adalah Bernard Nababan yang dulu kabur dari rumah. Saya jelaskan pula agama yang kini saya anut. Ibu saya amat kaget dan shock. Kakak-kakak saya amat marah. Akhirnya saya diusir dari rumah.
Usiran merekalah yang membuat saya tegar. Saya kemudian pergi ke beberapa kota untuk berdakwah. Alhamdulillah, dakwah-dakwah saya mendapat sambutan dari saudaraudara kaum muslimin. Akhirnya saya terdampar di kota Jakarta. Aktivitas dakwah saya makin berkembang. Untuk mendalami ajaran-ajaran agama, saya pun aktif belajar di Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta.

Pendeta yang Suka Menistakan Islam Ini Akhirnya Sadar dan Masuk Islam




Prof. Dr. Achmad Welson, Sth. Mth (seorang pendeta, ahli filsafat, guru besar sekolah Teologi dan seorang ahli Islamologi yang pernah menista Islam dan nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam) dan istrinya akhirnya masuk Islam.
Hal ini disampaikan Sekjen Mualaf Center Hanny Kristianto melaui laman Facebooknya.
Bertempat di Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur, Selasa (15/8/2017) ba’da Dhuhur, Welson dan istrinya bersyahadat dibimbing imam masjid Ustadz Abdul Majid, S.Pdi dan disaksikan team Mualaf Center Darussalam serta jama’ah.
Pendeta Ahmad Wilson asal Solo pernah menista Agama Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW dengan mengatakan “Sebelum menjadi muslim, Nabi Muhammad itu adalah pemeluk Kristen.”
Reaksi keras muslim Solo kontan muncul. FPI Surakarta melaporkan Wilson ke polisi. Proses pun berlanjut ke meja hijau. Pada Juli 2000, Wilson dinyatakan bersalah dan diganjar hukuman lima tahun penjara.
Selama ini Wilson menjadi rujukan para penginjil untuk memurtadkan Umat Islam. Berikut video keislaman Wilson dan istrinya:

Setelah 10 Tahun Menjadi Atheis, Profesor Matematika Ini Masuk Islam

Islamedia  - Sungguh sebuah mimpi yang aneh. Sebagai seorang berbakat, Jeffrey Lang tidak habis pikir dengan mimpi itu. Namun hati kecilnya mengakui, mimpi itu membawa kedamaian di tengah kehidupan “ilmiah”-nya yang gersang.



Dalam mimpi itu, Jeffrey bersimpuh menghadap Tuhan. Caranya, ia berdiri, kemudian membungkuk, berdiri lagi, kepala menyentuh lantai, hingga duduk di atas tumit. Ia melakukannya di sebuah ruang yang hening, tanpa meja tanpa kursi. Hanya ada karpet dan dinding yang berwarna putih keabuan. Selain Jeffrey, di ruangan itu juga banyak laki-laki membentuk beberapa barisan. Jeffrey berada di barisan ketiga. Sedangkan di depan mereka, ada seorang laki-laki yang duduk sendiri, tak ada orang lain di sampingnya. Ia tampak memimpin ‘ritual’ itu. Jeffrey tak bisa melihat wajahnya, tapi Jeffrey ingat betul di atas kepala pria itu ada kain putih dengan motif berwarna merah.
Tidak sekali itu saja Jeffrey bermimpi begitu. Berkali-kali, selama 10 tahun menjadi atheis, Jeffrey bermimpi yang sama. Namun, ia mengabaikannya begitu saja dan memenangkan nalar ‘ilmiah’-nya.
Jeffrey Lang lahir dan besar dalam keluarga Katolik. Namun sejak kecil, ia telah menjadi anak yang kritis. “Ayah, apakah surga itu benar-benar ada?” tanyanya saat masih menjadi bocah.
Saat ia memasuki usia remaja, pertanyaannya semakin banyak dan kritis. Namun pendeta dan orang-orang seagama yang ditemuinya tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Ketia ia berusia 18 tahun, Jeffrey merasa logika mengenai Tuhan menemui jalan buntu. Karenanya ia kemudian memilih menjadi atheis menjelang kelulusannya dari sekolah Notre Dam Boys High.
Dua puluh tahun berlalu sejak mimpi pertamanya bersimpun menghadap Tuhan. Jeffrey menjadi dosen di University of San Fransisco. Di Universitas itu, Jeffery bertemu dengan Ghassan, pemuda muslim yang menjadi mahasiswanya. Keduanya menjadi sering berdiskusi. Semula tentang pelajaran, kemudian Jeffrey juga mengenal keluarga mahasiswanya tersebut.
Suatu hari, Jeffrey diberi hadiah sebuah mushaf Al Qur’an terjemah. Di situlah titik hidayah itu dimulai. Jeffrey akhirnya membaca Al Qur’an itu. Halaman demi halaman. Ia merasa tertantang.
“Sejak awal, buku ini menantang diriku,” kata Jeffrey mengenang saat-saat itu. Agaknya ia membaca ayat kedua surat Al Baqarah: “Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Jeffrey terus membaca Al Qur’an. Ia merasa setiap kali ia membantah ayat-ayat yang dibacanya, ayat berikutnya menjadi jawaban atas bantahannya tersebut. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku,” kenangnya.
Jeffrey mulai sadar bahwa kitab di depannya itu melampaui pikirannya. Ia sadar kitab di depannya itu telah mengisi kekosongan jiwa yang selama ini ia rasakan. Kitab itu bukan hanya menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang Tuhan dan alam semesta, tetapi juga membawa kedamaian bagi jiwanya. Hidayah mulai masuk ke dalam hatinya.
Dan hidayah itu semakin terang, tatkala ia melihat sebuah pemandangan di basement gereja Universitas. Sejumlah kecil mahasiswa muslim sedang beribadah. Karena kesulitan tempat, mereka menggunakan basement itu.
Jeffrey melihat mereka berbaris rapi. Berdiri bersama, menunduk bersama, lalu berdiri lagi, kemudian bersujud, dan duduk bersimpuh di atas tumit. Jeffrey ingat sesuatu. Terlebih setelah ia melihat di depan mereka ada seseorang yang memimpin mereka beribadah, memakai penutup kepala putih dengan motif berwarna merah. Rupanya itu Ghassan. “Ini mimpiku!” teriak Jeffrey dalam hati. Ya, pemandangan itu persis seperti mimpinya yang berulang beberapa kali beberapa tahun silam.
Jeffrey tak kuasa menahan tangis haru. Hatinya penuh damai. Ia tersungkur bersujud.
Singkat cerita, profesor Matematika ini kemudian masuk Islam. Ia lalu berdakwah melalui mimbar ilmiah dan menulis sejumlah buku. Diantaranya Struggling to Surrender (1994), Even Angels Ask (1997) dan Losing My Religion: A Call for Help (2004). [Kisahikmah.com]

Dengar suara Azan Turis Rusia MariaLabodenska masuk Islam

Allahu Akbar!!! Dengar Suara Azan Turis Rusia Maria Labodenska Masuk Islam


ISTANBUL –  Warga Rusia, Maria Labodenskia (25) yang sedang wisata ke Turki akhirnya memeluk Islam. Ia meminta kepada Lembaga Fatwa Turki di kota Konya untuk mengumumkan keislamannya.
Mufti Konya Syukri Azbo Gaday menjelaskan tentang ajaran Islam kepada Labodenskia dan kemudian menuntun sang muallaf masuk Islam. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Noor.
Dalam penjelasannya, Labodenskia banyak terpengaruh oleh suara azan yang berkumandang saat ia sedang berkeliling tour di Istanbul. Ia merasakan getaran dan sensasi tak tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
“Saya memang pernah membaca tentang Islam. Namun antara membaca, pengetahuan dan melihat dengan merasakan kehidupan Islam sama sekali dua hal yang berbeda,” tegas Labodenskia. “Kini saya mulai memahami Islam dengan benar,” tuturnya.
Mufti Konya memberikan kepada “Noor” Labodenskia sebuah mushaf Al-Quran sebagai hadiah keislamannya.
Sejumlah sumber di Turki menjelaskan, sejumlah warga asing belakangan ini menyatakan diri masuk Islam. Kebanyakan mereka berwisata dan terpengaruh oleh peninggalan-peninggalan bersejarah dari Khilafah Utsmaniyah yang memiliki nuansa spiritual yang khas. Selain wisatawan, ada juga ekspatriat yang bekerja di Turki.
Badan Urusan Agama di Turki pernah merilis bahwa selama tahun lalu, ada 634 orang, 467 di antaranya wanita antara usia 30 – 35 dari warga Jerman, Moldeva, Belanda, Prancis, China, Brazil, Amerika, Romania, dan Estonia masuk Islam di Turki.
Seorang Mufti Turki Ali Mursajijel menegaskan, suara azan adalah pertama kali yang memberikan pengaruh terhadap kebanyakan mereka yang masuk Islam. Setelah itu mereka mulai mencari informasi tentang agama Islam. Bertemulah mereka dengan para imam masjid dan ulama dan membaca Al-Quran dan terpengaruh oleh ayat-ayatnya. Dari sanalah mereka masuk Islam. [spiritislam/islammemo]

Kisah seorang Profesor Sue Watson yang Menjadi Muallaf





TRIBUNPEKANBARU.COM- Sue Watson merupakan  seorang profesor, pendeta, dan misionaris, yang pantas disebut sebagai fundamentalis radikal, dan kini telah memutuskan untuk menjadi muallaf.
Hidayah  telah menghampirinya, sehingga dia tertarik pada Islam, dan akhirnya memeluk agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini. Kisah keislamannya bermula ketika dia baru saja lulus dari pendidikan pasca sarjana, lima bulan setelah mendapatkan gelar Master of Divinity (Ketuhanan) dari sekolah seminari ternama, dia bertemu seorang wanita yang pernah bekerja di Arab Saudi dan telah memeluk Islam.
Jiwa misionarisnya muncul. Dia pun mencoba bertanya kepada wanita itu dengan maksud menjalankan misi kristennya. Kepada wanita itu, Watson bertanya tentang perlakuan Islam terhadap wanita. ”Saya terkejut dengan jawabannya. Jawaban itu bukan yang saya harapkan, jadi saya bertanya lagi tentang Tuhan (Allah SWT) dan Muhammad,” ujarnya. Namun wanita itu tidak mau menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu justru mengajak Watson untuk berkunjung ke Islamic Center karena di sana ada orang yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan lebih baik.
Selama delapan tahun, Watson mempelajari kristen di sekolah teologi. Sebagai seorang penganut Kristen yang taat, dia memandang Islam sebagai agama setan. Dalam setiap doanya, dia meminta kepada Yesus agar dilindungi dari roh-roh jahat. Namun setelah peristiwa di atas dan dia kemudian berdialog di Islamic Center tersebut, dia seperti mendapatkan pandangan lain tentang Islam. ”Saya cukup terkejut dengan pendekatan mereka (umat Islam), karena langsung dan lugas. Tidak ada intimidasi, pelecehan (terhadap agama lain), dan tak ada manipulasi psikologis,”  tuturnya.
Watson pun menceritakan,  ustadz di Islamic Center itu menawarkan dirinya untuk mempelajari Alquran di rumahnya. ”Ini seperti studi banding terhadap Alkitab”. Saya tak percaya, mereka kemudian memberikan beberapa buku mengenai Islam dan mengatakan jika saya memiliki pertanyaan maka mereka akan bersedia menjawabnya di kantor katanya.
Malamnya, Watson langsung membaca semua buku itu. Itulah untuk kali pertama, dia membaca buku tentang Islam yang ditulis oleh seorang Muslim sendiri. Selama ini, dia hanya membaca buku-buku mengenai Islam yang ditulis oleh orang Kristen. Keesokan harinya, dia kembali menemui Ustadz itu untuk menanyakan beberapa hal mengenai Islam yang didapatnya dari membaca buku itu. Hal itu terus berulang setiap hari selama sepekan. Hingga tanpa terasa, dia telah membaca sebanyak 12 buku dalam tempo sepekan itu.
Dari situ, dia mulai memahami mengapa Muslim merupakan umat yang paling sulit di dunia ini untuk diajak memeluk Kristen, karena  tak ada lagi yang bisa ditawarkan kepada mereka (Muslim). Islam mengajarkan hubungan dengan Tuhan, pengampunan dosa, keselamatan, dan janji kehidupan yang kekal,” paparnya.
Selama menjalani proses dialog itu, secara alamiah, pertanyaan pertamanya terpusat kepada Allah, Tuhan umat Islam. Siapakah Allah yang disembah kaum Muslim ini? Sebagai seorang Kristen, dia diajarkan bahwa Allah itu merupakan Tuhan palsu. Namun setelah membaca buku Islam dan berdialog, dia baru mengetahui bahwa Allah itu Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Allah itu Maha  Esa. Tidak ada Tuhan lain yang mendampingi Allah.
Selanjutnya, pertanyaan yang penting lainnya yakni  tentang Muhammad. Siapa Muhammad? Dia baru mengetahui bahwa umat Muslim tidak berdoa kepada Muhammad, seperti orang Kristen berdoa kepada Yesus. Dia (Muhammad) juga bukan seorang perantara, sehingga dilarang berdoa kepadanya. Dia pun mengetahui bahwa umat Islam juga percaya pada Yesus sebagai seorang nabi seperti Muhammad. Menurutnya, banyak kesalahpahaman dari penganut Kristen tentang Islam.
Tanpa disadarinya, dia mulai mengakui kebenaran Islam. ”Tapi saya tidak beralih memeluk Islam pada waktu itu juga karena saya belum percaya sepenuhnya di dalam hati. Saya terus pergi ke gereja, membaca Alkitab, akan tetapi di satu sisi juga belajar Islam di Islamic Center. ”Saya benar-benar meminta petunjuk Tuhan, karena tak mudah untuk pindah agama. Saya tak mau kehilangan keselamatan,” ucapnya.
Dua bulan setelah proses pengenalan dengan  Islam, Watson masih terus meminta kepada Tuhan agar diberikan petunjuk. Hingga akhirnya, suatu ketika, dia merasakan ada sesuatu yang jatuh meresap ke dalam dirinya. ”Saya lantas terduduk, dan itulah untuk kali pertama saya menyebut nama Allah SWT. Ada kedamaian yang dirasakan. Dan sejak itu, empat tahun lalu hingga sekarang, saya percaya bahwa  Allah lah satu-satunya Tuhan” tuturnya.
Keputusannya memeluk Islam bukannya tanpa risiko. Setelah menjadi mualaf, Watson dipecat dari pekerjaan sebagai pengajar di dua Perguruan Tinggi Kolese, dikucilkan oleh teman-temannya di sekolah Teologi dan sesama profesor teologi, dan tidak diakui lagi oleh keluarga suaminya. Pilihannya itu juga disikapi negatif oleh anak-anaknya yang sudah dewasa dan dicurigai oleh pemerintahnya sendiri.
”Tanpa adanya kekuatan iman, mungkin saya sudah tak sanggup menghadapi itu semua,” ujarnya. ”Saya sangat berterima kasih kepada Allah SWT yang telah menjadikan saya sebagai Muslim. Dan saya berharap hidup dan mati sebagai Muslim.”
Mantan misionaris yang kini telah berganti nama menjadi Khadijah Watson itu, sekarang bekerja sebagai seorang guru untuk melayani kalangan perempuan di salah satu pusat dakwah di Jeddah, Arab Saudi. (Serambiummah)

Pengakuan mantan Misionaris yang masuk Islam


Drs. H. Wakhid Rosyid Lasiman, MA (Willibrordus Romanus): Apa Agama Yesus? Setelah melakukan berbagai penelitian dan diskusi yang panjang tentang kebenaran baik dengan tokoh Katolik maupun Islam, Lasiman, mantan misionaris yang juga tetangga dari Mbah Marijan, yang tinggal di dekat Gunung Merapi, Yogyakarta itu alkhirnya mengucapkan syahadat. Ia pun berusaha untuk mengembalikan mereka yang pernah dimurtadkannya.

Berikut kisahnya: Aku dulu seorang penganut Katolik. Nama kecilku Lasiman. Aku lahir dari orang tua kejawen. Namun sejak kecil dididik secara formal di sekolah Katolik di samping Gereja di Sleman Yogyakarta. Aku pun mendapat pendidikan agama Katolik. Alhasil aku menjadi penganut Katolik. Aku diberi nama baptis Willibrordus. Kemudian diberi nama baptis kader penguatan Romanus. Selanjutnya aku belajar di sekolah guru milik yayasan Katolik yang didirikan tahun 1822. Aku dididik menjadi guru misi, sehingga aktivitas yang ada selalu terkait dengan kegiatan misi Katolik seperti melatih teater untuk tampil di Natalan, Paskah, dan lainnya. Aku pun aktif di tim koor lagu-lagu Katolik, acara-acara Natal, Paskah, dalam rangka dakwah misi Katolik lainnya.

Guru-guru sekolah Katolik saat itu dapat pembinaan khusus sebagai guru misionaris. Kami dilatih dari Keuskupan Agung Semarang dan dari Gereja Pintaran di Yogya. Kami mendapat pelatihan terkait kurikulum pendidikan, dan bagaimana mengajar di sekolah-sekolah untuk mengaburkan keislaman para siswa melalui pendidikan sejarah. Kami diajarkan bahwa yang menyebarkan agama Islam di Indonesia itu bukan hanya 9 wali tapi 10 wali yang salah satunya itu Syekh Siti Jenar. Syeikh Siti Jenar itu mengenalkan istilah manunggaling kaulo gusti, menyatunya tuhan dan manusia. Diajarkan di dunia ini, bahwa yang menyatunya tuhan dan manusia yang paling hebat dan melebihi Syekh Siti Jenar adalah menyatunya Tuhan Allah dengan Yesus. Jadi diajarkan bahwaYesus itu wujudnya manusia tapi rohnya Allah.

 Tugas seorang misionaris yang paling prinsip adalah mengubah orang Indonesia yang mayoritas Muslim ini menjadi orang-orang Nasrani. Salah satunya itu melalui lembaga pendidikan. Makanya wajar meski UU Sisdiknas ini sudah diundangkan tapi nyatanya belum dipraktekkan di Yayasan Katolik dan Kristen. Hal itu bisa dibaca di buku saya berjudul Kristenisasi Berkedok Islam.

Pada 1977 setelah dilatih di Keuskupan Semarang untuk menyebarkan Katolik di Jawa Barat, aku kemudian ditempatkan di Garut. Ketika di Garut lah aku bertemu dengan Profesor Dr Anwar Musyaddad, di Pondok Pesantren Musyaddadiyah. Beliau saat itu adalah Rektor IAIN Bandung. Kami berdialog tentang kebenaran yang ada. Kebetulan beliau juga paham tentang Kristologi dan perbandingan agama. Kebiasaan dialog tentang kebenaran sebenarnya aku lakukan juga ketika aku sekolah di kemaritiman dan Sospol UGM waktu itu. Dialog merupakan salah satu cara bagaimana untuk mengkristenkan mahasiswa. Masuk Islam Dialog juga aku lakukan dengan para pimpinan Katolik. Karena banyak hal yang ingin aku pertanyakan dan butuh jawaban yang memuaskan seperti perbedaan Katolik dan Protestan, dosa warisan dan lainnya.

Ketika aku belajar Tafsir di Katolik kemudian belajar tafsir Al Kitab Kristen, banyak perbedaan di antara keduanya. Tafsir Al kitab di Katolik lebih rendah dibandingkan Protestan. Perbedaan antara Katolik dan Kristen itulah yang aku diskusikan dengan pimpinan-pimpinanku saat itu, namun itu tidak bisa terjawab. Setelah berdialog lama dengan Profesor Anwar Musyaddah akhirnya aku pun masuk Islam. Aku secara resmi mengikrarkan syahadat di Kantor Depag Yogyakarta, 15 April 1980. Aku mememukan kebenaran di Islam. Dari hasil dialog dan penelitian itu aku memperoleh kesimpulan bahwa orang yang hidup itu pasti mati, mati itu harus membawa kebenaran, kebenaran itu ada di kitab suci dan kitab yang benar itu Alquran.

Setelah masuk Islam aku kemudian belajar di sebuah pesantren di Cirebon. Aku ingin mendalami Islam lebih dalam. Aku melihat begitu banyak orang yang mengaku Islam tapi mereka tidak mendalami Islam. Itu tantangan ketika aku hidup di lingkungan Islam. Aku ingin berislam secara ilmiah Karena memang aku sudah biasa dilatih seperti itu di sekolah misi Katolik. Aku pikir kalau berislam dengan tidak ilmiah itu omong kosong. Tapi setelah aku belajar di pesantren, aku rasa itu tidak cukup. Sampai akhirnya aku kuliah mengambil sarjana muda di IAIN Cirebon. Tapi di IAIN juga tidak cukup. Akhirnya aku pikir aku harus selalu mempelajari Islam.

Aku kemudian pulang ke Yogja dan melanjutkan kuliah di S1. Selanjutnya melanjutkan belajar di psikologi Islam di UMJ dengan tesis konversi agama yang diuji beberapa professor. Dalam tesis itu dibahas bagaimana orang Islam yang haji bisa masuk Kristen dan aktivis Kristen bisa tobat. Setelah aku paham Islam, dan tahu kewajiban dalam Islam itu berdakwah maka aku pun mendakwahkan kebenaran itu ke orang-orang.

Tantangan Banyak tantangan kuhadapi setelah masuk Islam. Banyak teman-temanku yang tidak menyukai ketika tahu aku masuk Islam .. Ketidaksukaan mereka itu disampaikan baik secara lisan, fisik, sampaikan dengan hukuman. Termasuk itu datang dari keluarga. Menurutku itu sudah biasa, sebab Rasulullah juga mengalaminya. Kalau Rasulullah dulu dikatakan orang kafir Quraisy sebagai majnun (gila), maka itu juga yang aku alami. Aku juga dikatakan majnun. Aku pikir itu wajar. Itu sudah menjadi sunnatullah. Lihat saja dalam QS Al Baqarah ayat 155-156 dan 214. Jadi kalau berislam apalagi baru masuk Islam itu tidak ada tantangan, atau ketika menegakkan agama Rasulullah itu tidak ada tatangan itu justru tidak benar. Aku tetap memegang teguh kebenaran Islam. Aku yakin akan firman Allah SWT: Innamal yusri yusro. Untuk mencapai kesuksesan itu harus berani menerima tantangan dan penderitaan. Jika tak ada tantangan dan penderitaan itu maka tak akan ditemukan kebahagiaan. Setelah masuk Islam, hatiku mantap dan merasakan ketenangan. Itu karena kebenaran yang kutemukan ini adalah kebenaran ilmiah yang bisa diterima dengan hati, akal dan pikiran.

Tapi sayang, meski ajaran Islam ini benar tapi orang-orangnya banyak yang belum benar. Ketika menjadi misionaris, banyak orang-orang Muslim yang berhasil kumurtadkan. Jumlahnya ribuan orang. Saat itu kami lakukan diantaranya dengan membagi-bagikan susu, pakaian dan lainnya. Semuanya itu dilakukan tidak sendirian, tapi secara terpadu. Karena itu, setelah masuk Islam, aku ingin mengem-balikan yang murtad itu kepada Islam. Kami kemudian mendirikan lembagai Al mantik 1991 di Jakarta bersama M Natsir. Kami pun mendekla-rasikan orang-orang masuk Islam se-ASEAN.